From: Sugeng Hj. Jabri – Malaysia

Perilaku Muhammad (saw) disebut sunnah. Menurut Islam, sunnah Nabi adalah sumber hukum kedua setelah Qur’an. Keseharian dan perilaku Rasulullah, bahkan diakui oleh para sarjana Barat, merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Dan tidak ada satupun seorang manusia di muka bumi yang diikuti perilakunya oleh berjuta-juta orang hingga detik ini dalam sejarah peradaban manusia. Akhlak Nabi (saw) merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang. Allah menegaskan : “Akhlaq Nabi adalah Qur’an”.

Pada ayat lain, Dia berfirman : “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” (Q.S. al Ahzab : 21). Pada firman Allah yang lain :

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al Anbiya’ : 107)

Semua itu telah tercatat dalam sejarah Islam yang merupakan ketetapan Allah (swt). Berapa banyak kalangan salaf (generasi terdahulu) yang mengagumi dan berusaha menyelaraskan kehidupan mereka dengan sunnah. Sejak pagi hingga malam hari.

Di kalangan umat Islam telah sepakat bahwa sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dali yang tersedia di dalamnya. Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya ; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Qur’an, “Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” (Q.S. al-Nisaa’ : 80 )

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlan suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Qur’an : “Dan apa yang Rasul berikan untuk mu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” (Q.S. al-Hasyr : 7)

Hidup ini sangat singkat dan sarat dengan tipu daya dengan segala bentuk dan ragamnya yang sulit untuk dirubah. Semuanya baru akan terasa indah dan bermakna jika kita mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi. Setiap aktifitas yang diarahkan kepada Allah tidak akan menjauhkan dari hubungan hidup dengan-Nya, bahkan justru membuat Alah semakin menyukai dan meridhoinya. Tidak ada karunia kenikmatan yang lebih besar daripada sehari yang dilalui dalam ketentraman dan keserasian.

Kita coba mengawali aktifitas sehari dengan mengingat Allah dan Rasul-Nya pada saat bangun pagi, kemudian menjalani paginya bersama bimbingan  Nabi (saw). Dalam setiap hendak memulai perkerjaan, Rasulullah senantiasa mengawali perbuatan dengan menyebut nama Allah. Rasulullah bersabda :

“Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah (membaca) Bismillahirrahmanirrahim – adalah terputus (dari berkat Ilahi atau Rahmat-Nya).” (Tafsir Ibnu Katsir). Selanjutnya, hendaknya perilaku hidup ini kita selaraskan dengan ajaran Qur’an, dan mengikuti sunnah Nabi. Dengan begitu, hidup yang singkat ini akan terasa sangat bermakna, penuh hikmah dan indah.

Rasa kasih sayang yang Nabi miliki, kita adopsi. Kecintaan kepada sesama dan semua makhluk Allah kita pelihara. Pengabdian hidup Nabi untuk kejayaan Islam, kita amalkan. Pengorbanan Nabi untuk kedamaian umat manusia, kita jaga. Kesederhanaan Nabi dalam hidup sehari-hari, kita ikuti. Keikhlasan Nabi dalam beramal, kita praktekkan.

Maka, dengan mengikuti Nabi yang mulia karena akhlaknya, kita akan menjadi orang mulia, baik di mata Allah atau di mata manusia.

Wallahu a’lam.

About these ads